Baru saja disiarkan film Ayat-ayat Cinta, Kun Fayakun. langsung muncul film Mau Lagi (ML). Budaya di Indonesia biasanya latah. Lagi demam horor, maka yang lain bikin film horor, lagi demam film cinta, maka yang lain ikut bikin film cinta. Lagi demam film Cinta Religius maka yang lain juga ikutan bikin film Cinta Religius.
Sebenarnya saya sendiri kurang srek, menonton Ayat-ayat Cinta, karena buku dengan filmnya, jauh sekali dari tujuan buku itu sendiri. Kalau dibuku terdapat unsur Cinta dan unsur Dakwah. Kalau di film Unsur Cinta dan Unsur Cinta (maksudnya ada 2 :-) ).
Tapi daripada tidak ada yang lain film Ayat-Ayat Cinta masih lebih baik dengan film jenis yang lain. Perbedaan yang mencolok adalah film ML. Kok bisa ya produsen film bisa mengeluarkan film seperti itu. Ada budaya yang sangat kontras.
Mereka masih pakai selogan lama, kebebasan ekspresi, seni, dan menjual budaya kota. Padahal jumlah kota dengan jumlah desa lebih banyak jumlah desanya. Artinya secara bisnis kalau mereka mau, kenapa tidak menjual film dengan mengambil unsur budaya desa.
Dulu saya pernah melihat film kisah cinta di SMU, SMP. Lalu saya menduga, nanti ada film Cinta di SD. Dan ternyata sekarang itu ada. Coba kalau kita melihat film cinta di SMP. Pasangan SMP selalu teleponan, jalan-jalan, kebioskop, kadang dalam film mereka membawa mobil sendiri. Artinya film mengajarkan cara untuk berpacaran seperti itu. Coba kita rasakan, anak SMP untuk melakukan pacaran perlu modal besar. Jangankan untuk orang desa. Orang kotapun jarang yang mampu.
Film ML, adalah kemunduran. Kemunduran budaya, kemunduran moral, dan adat. Walaupun hanya sekedar judulnya saja.
Tunggu komentar saya ang lainnya ya ………………………